Langsung ke lembah

Tafsir budaya dalam tujuh lembah

Tafsir sufistik atas Ramayana

Dua perjalanan bertemu di sini. Dalam yang pertama, sekawanan burung menyeberangi tujuh lembah untuk menemukan raja mereka. Dalam yang kedua, seorang pangeran berjalan dari pembuangan kembali ke kotanya. Gulir untuk menempuh keduanya.

Mulai perjalanan
Poster Rahmatyana: gunungan wayang dengan cermin serupa matahari yang dikelilingi tiga puluh burung, dibingkai candi bentar

Ilustrasi dibuat khusus untuk halaman ini.

Pembuka · Mukadimah

Seruling buluh dan burung hudhud

Seruling Rumi; hudhud dalam kisah Attar

Sekitar tahun 1177, di Nisyapur, Fariduddin Attar menyelesaikan Mantiq al-Tayr, Musyawarah Burung. Burung-burung dari seluruh dunia berkumpul untuk mencari raja mereka, Simurgh. Burung hudhud, yang dalam Al-Qur'an dikenang sebagai utusan Nabi Sulaiman, menawarkan diri memimpin mereka dan mengingatkan bahwa jalannya melintasi tujuh lembah.

Kurang dari seabad kemudian, Jalaluddin Rumi membuka Matsnawi dengan seruling buluh yang dipotong dari rumpunnya dan menyanyikan perpisahan. Kedua gambaran itu menanyakan hal yang sama dengan Ramayana: apa yang dibutuhkan untuk pulang? Rahmatyana memasangkan setiap lembah Attar dengan satu episode Ramayana sebagaimana dikisahkan di Jawa, dipahat di dinding Prambanan, dilantunkan dalam kakawin Jawa Kuno, dan dimainkan di balik kelir wayang.

Seruling bernyanyi justru karena ia dilubangi.

Lembah 1 · Talab

Pencarian

Ramayana: pembuangan ke hutan Dandaka

Lembah pertama Attar adalah pencarian. Di sini, kata hudhud, pejalan harus meletakkan apa yang dimilikinya, sebab pencari yang terus menoleh ke belakang tidak pernah benar-benar berangkat. Banyak burung sudah mengajukan dalih sebelum perjalanan dimulai: bulbul tak sanggup meninggalkan mawarnya, itik tak sanggup meninggalkan air.

Pencarian dalam Ramayana juga diawali dengan melepaskan sesuatu. Demi menepati janji ayahnya, Rama meninggalkan takhta Ayodya dan masuk ke hutan selama empat belas tahun bersama Sinta dan adiknya, Laksmana, menukar sutra istana dengan pakaian kulit kayu. Dandaka, hutan pembuangan, menjadi tempat pertama ketika kisah ini tak punya pegangan selain tujuannya.

Pencarian dimulai saat kita berhenti menoleh ke belakang.

Lembah 2 · 'Isyq

Cinta

Ramayana: bakti Jatayu

Di lembah kedua, Attar menggambarkan cinta sebagai api yang dimasuki pejalan tanpa menimbang harganya. Para penulis sufi sesudahnya merawat gambaran itu. Rabi’ah al-Adawiyah dari Basrah dikenang membawa obor dan sekendi air, untuk membakar surga dan memadamkan neraka, agar Allah dicintai semata karena Dia, bukan karena pahala atau rasa takut.

Ramayana menyerahkan lembah ini kepada seekor burung. Ketika Rahwana membawa lari Sinta melintasi langit, Jatayu, raja burung yang telah tua dan sahabat ayah Rama, menyerangnya dan bertarung sampai sayapnya terpotong. Ia bertahan cukup lama untuk memberi tahu Rama ke arah mana Sinta dibawa. Baktinya tidak meminta balasan apa pun, dan itulah yang dimaksud kaum sufi dengan 'isyq.

Bakti tidak menghitung harga.

Lembah 3 · Ma'rifat

Pengenalan

Ramayana: Anoman Duta, Hanuman sang utusan

Ma'rifat adalah pengetahuan yang dijalani, bukan dihafal. Di lembah ketiga Attar, setiap pejalan menempuh jalan yang berbeda, dan masing-masing hanya mengenal sejauh kekuatannya sendiri membawanya. Al-Ghazali menyampaikan hal serupa dalam kisah pencariannya, al-Munqidz min al-Dhalal: mengetahui definisi mabuk tidak sama dengan mabuk.

Dalam wayang, inilah lakon Anoman Duta. Anoman, si kera putih, menyeberangi laut ke Alengka, menemukan Sinta di Taman Argasoka, dan memperoleh kepercayaannya lewat sebuah tanda: cincin Rama. Sinta mengenali sang utusan bukan dari kekuatannya, melainkan dari apa yang ia bawa, dan Anoman tahu tugasnya adalah membawa tanda itu dengan setia, bukan memenangkan perang seorang diri.

Mengenal berarti mampu membaca tanda.

Lembah 4 · Istighna

Melepas keterikatan

Ramayana: Barata dan terompah Rama

Istighna adalah lembah tanpa butuh. Attar menggambarkannya sebagai tempat ketika hadiah terbesar dunia menyusut hampir tak berarti di mata pejalan. Melepas di sini bukan sikap dingin. Ia adalah kebebasan tangan yang tak lagi menggenggam erat.

Gambaran Ramayana untuk lembah ini adalah sepasang terompah. Barata, yang ditawari takhta hasil siasat ibunya, justru masuk ke hutan untuk menjemput Rama pulang. Ketika Rama tetap memegang janjinya, Barata meminta terompahnya, meletakkannya di atas takhta Ayodya, dan memerintah atas nama terompah itu sampai kakaknya kembali. Kelak dalam Kakawin Ramayana, Rama mengajarkan Asta Brata, delapan watak pemimpin yang adil, kepada Wibisana, raja baru Alengka; masa perwalian Barata terbaca seperti latihan atas ajaran itu.

Kuasa itu titipan, bukan milik.

Lembah 5 · Tawhid

Keesaan

Ramayana: Rama Tambak, jalan batu ke Alengka

Di lembah kelima, tulis Attar, yang banyak menjadi satu: apa pun yang dipandang pejalan, yang tampak adalah Yang Esa. Tauhid, keesaan Allah, adalah inti iman Islam, dan kaum sufi juga membacanya sebagai cara memandang, ketika dunia tidak lagi tampak sebagai kerumunan hal yang terpisah-pisah.

Dalam wayang, lembah ini adalah lakon Rama Tambak. Bala wanara, para kera dan beruang, mengangkut batu ke tepi laut dan membangun jalan menuju Alengka, Setu Bandha dalam epos Sanskerta. Tak satu batu pun menyeberangi laut; jembatanlah yang menyeberang. Jawa punya ungkapannya sendiri, Bhinneka Tunggal Ika, dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular abad ke-14 yang kini tertera pada lambang negara: berbeda-beda, tetapi satu.

Tak satu batu pun menyeberangi laut sendirian.

Lembah 6 · Hayrat

Ketakjuban

Ramayana: Sinta Obong, ujian api

Lembah keenam adalah kebingungan yang takjub. Setelah keesaan, kata Attar, pejalan tenggelam dalam ketakjuban dan tak lagi tahu apakah dirinya ada atau tiada. Hayrat bukan bingung karena terlalu sedikit tahu. Ia adalah takjub karena melihat terlalu banyak cahaya.

Wayang mementaskannya sebagai Sinta Obong. Seusai perang, Sinta melangkah ke dalam api untuk menjawab keraguan atas kesetiaannya, dan api mengembalikannya tanpa luka. Penonton mempertanyakan adegan ini dari generasi ke generasi: mengapa yang setia justru diuji? Adegan itu meninggalkan mereka di tempat para pejalan Attar berdiri, takjub pada apa yang tidak dibakar api, dan gelisah mengapa api itu dinyalakan.

Ketakjuban tinggal di tempat penjelasan berhenti.

Lembah 7 · Faqr wa Fana'

Kefakiran dan peleburan

Ramayana: kembali ke Ayodya

Dari semua burung yang berangkat, hanya tiga puluh yang tiba di istana Simurgh. Di sana mereka tidak menemukan raja di atas takhta, hanya kehadiran serupa cermin, dan di dalamnya mereka melihat diri sendiri. Syair ini bertumpu pada permainan kata Persia: si murgh berarti tiga puluh burung. Faqr adalah kefakiran, tidak memiliki apa pun; fana' adalah luruhnya diri, sehingga yang tersisa, baqa', adalah yang sejak awal memang ada.

Ramayana ditutup dengan kepulangan. Rama kembali ke Ayodya setelah empat belas tahun dan dinobatkan, tetapi pejalan yang pulang bukan lagi orang yang dulu pergi. Pada malam wayang, dalang menutup pertunjukan dengan menancapkan kembali gunungan, pohon hayat yang membuka lakon, di tengah kelir. Kisah kembali ke tempat ia bermula, dan penonton pulang dalam keadaan berubah.

Tiga puluh burung mencari raja dan menemukan cermin.

Penutup · Rahmatan lil 'Alamin

Rahmat bagi seluruh alam

Al-Anbiya' 21:107

Al-Qur'an menggambarkan risalah Nabi sebagai rahmat bagi seluruh alam, rahmatan lil 'alamin (Al-Anbiya' 21:107). InfraLoka memegang ungkapan yang sama sebagai misinya, dan ungkapan itu pula yang memberi nama halaman ini: Rahmatyana menggabungkan rahmah, kasih sayang, dengan ayana, perjalanan, ayana yang sama dengan akhir kata Ramayana, perjalanan Rama.

Jawa sudah lama merawat tradisi-tradisi ini bersama. Kelir wayang yang menampilkan Ramayana adalah kelir yang sama yang, menurut kisah tentang Wali Songo, membawa ajaran Islam ke desa-desa di Jawa. Membaca Attar di samping Ramayana bukan mencampuradukkan akidah. Ini adalah menyadari bahwa keduanya menggambarkan satu jalan: berangkat, mencintai, mengenal, melepas, menyatu, takjub, lalu pulang.

Setiap lembah diseberangi dengan rahmat.

Tentang tafsir ini

Rahmatyana adalah esai budaya karya Rahmat Wibowo, pendiri InfraLoka. Esai ini membaca dua karya klasik berdampingan: syair sufi Persia abad ke-12 dan Ramayana sebagaimana ia hidup dalam seni Jawa.

Perjalanan 3D dan ilustrasi lembah dibuat khusus untuk halaman ini. Adegannya mengikuti tujuh lembah, dari rumpun buluh di tepi air sampai fajar di atas Ayodya.

Catatan membaca

Pemasangan lembah Attar dengan episode Ramayana adalah tafsir sastrawi, bukan klaim sejarah atau doktrin. Kedua karya lahir dari keyakinan yang berbeda; membacanya bersama berarti meminjam citra, bukan keyakinan. Keduanya diringkas dengan kata-kata sendiri, bukan dikutip.

Sumber

  • Farid ud-Din Attar, Mantiq al-Tayr (The Conference of the Birds), trans. Afkham Darbandi and Dick Davis, Penguin Classics, 1984
  • Jalaluddin Rumi, Masnavi, Book I, opening verses, trans. R. A. Nicholson
  • Valmiki, Ramayana: Ayodhya, Aranya, Sundara and Yuddha Kanda
  • Kakawin Ramayana (Old Javanese, c. 9th century); Stuart Robson, The Old Javanese Ramayana: A New English Translation, 2015
  • Mpu Tantular, Kakawin Sutasoma (14th century), the source of Bhinneka Tunggal Ika
  • Ramayana reliefs, Prambanan temple compound, Central Java (9th century)
  • Al-Ghazali, al-Munqidh min al-Dalal and Ihya' Ulum al-Din
  • Qur'an, An-Naml 27:20-28 (the hoopoe) and Al-Anbiya' 21:107

Mari bicarakan transformasi Anda berikutnya

Ceritakan apa yang ingin Anda ubah. Saya membalas sendiri setiap pertanyaan kemitraan dan proyek.